Dalam operasional pertambangan, produktivitas tidak hanya ditentukan oleh seberapa besar kapasitas alat atau seberapa cepat truk dapat mengangkut material. Efisiensi waktu dalam setiap siklus kerja juga memiliki peran yang sangat penting.
Salah satu faktor yang sering luput diperhatikan adalah queue time atau waktu antre. Ketika truk harus menunggu terlalu lama sebelum loading, dumping, fueling, maupun proses lainnya, waktu produktif kendaraan otomatis berkurang.
Queue time adalah waktu yang dihabiskan alat atau truk untuk menunggu sebelum dapat melanjutkan proses berikutnya.
Dalam aktivitas hauling, queue time dapat terjadi di beberapa titik, seperti:
Truk menunggu giliran loading di front.
Truk menunggu giliran dumping di disposal.
Antrean di crusher atau hopper.
Antrean saat melakukan fueling.
Menunggu alat loading seperti excavator atau wheel loader siap beroperasi.
Menunggu jalan hauling kembali aman untuk dilewati.
Menunggu proses administrasi atau pemeriksaan tertentu.
Secara sederhana, semakin lama truck menunggu, semakin kecil proporsi waktu yang digunakan untuk aktivitas produktif.
Dalam aktivitas hauling, cycle time merupakan total waktu yang dibutuhkan truk untuk menyelesaikan satu siklus perjalanan, mulai dari loading, hauling, dumping, hingga kembali ke loading point.
Salah satu komponen cycle time adalah waktu tunggu.
Sebagai contoh, apabila satu truk memiliki cycle time normal 30 menit, tetapi harus menunggu 10 menit sebelum loading, maka total waktu siklus dapat meningkat menjadi 40 menit.
Jika kondisi tersebut terjadi berulang kali, jumlah ritasi truk dalam satu shift akan berkurang.
Cycle time semakin panjang = ritasi semakin sedikit = produktivitas berpotensi menurun.
Truk yang sedang antre sebenarnya tetap berada dalam kondisi siap bekerja, tetapi belum menghasilkan output hauling.
Misalnya, truk memiliki waktu kerja efektif 8 jam per shift. Jika total waktu yang hilang akibat antre mencapai 1 jam, maka terdapat sebagian waktu operasional yang tidak digunakan untuk mengangkut material.
Hal ini membuat utilisasi alat menjadi lebih rendah.
Bagi perusahaan tambang, kondisi tersebut juga dapat berarti biaya kepemilikan dan operasional tetap berjalan meskipun unit tidak menghasilkan output secara optimal.
Produktivitas hauling sangat berkaitan dengan jumlah ritasi yang dapat dilakukan dalam satu shift.
Secara sederhana:
Produktivitas = Jumlah ritasi × Payload
Ketika queue time meningkat, waktu yang tersedia untuk melakukan perjalanan dan loading menjadi lebih sedikit. Akibatnya, jumlah ritasi per truk dapat turun.
Sebagai contoh, truk yang sebelumnya mampu melakukan 12 ritasi dalam satu shift mungkin hanya menghasilkan 10-11 ritasi ketika waktu antre meningkat secara signifikan.
Jika kondisi tersebut terjadi pada puluhan unit sekaligus, kehilangan produksi dapat menjadi cukup besar.
Truk yang mengantre tidak selalu dalam kondisi engine off. Dalam beberapa kondisi, engine tetap hidup untuk menjaga sistem kendaraan tetap siap beroperasi.
Artinya, bahan bakar tetap digunakan sementara truck belum melakukan hauling.
Queue time yang tinggi dapat menyebabkan fuel consumption per ton material menjadi kurang efisien karena sebagian konsumsi bahan bakar terjadi ketika unit belum menghasilkan output.
Karena itu, pengurangan waktu tunggu juga dapat menjadi salah satu langkah untuk meningkatkan efisiensi bahan bakar.
Queue time yang tinggi biasanya bukan hanya masalah truk. Kondisi tersebut dapat menjadi indikasi adanya bottleneck dalam sistem produksi.
Contohnya, apabila banyak truk mengantre di loading point, beberapa kemungkinan penyebabnya adalah:
Kapasitas excavator tidak seimbang dengan jumlah truk.
Produktivitas alat loading terlalu rendah.
Posisi loading kurang optimal.
Kondisi front tidak mendukung manuver truck.
Dispatching kurang efektif.
Jumlah truck terlalu banyak dibandingkan kapasitas loading point.
Sebaliknya, jika truk lancar saat loading tetapi menumpuk di dumping point, bottleneck kemungkinan berada pada area disposal, crusher, atau fasilitas penerima material.
Dengan demikian, data queue time dapat digunakan untuk menemukan titik yang menghambat produktivitas.
Waktu tunggu tetap membutuhkan biaya.
Selama unit beroperasi, perusahaan tetap harus memperhitungkan biaya bahan bakar, maintenance, depresiasi, tenaga kerja, dan biaya operasional lainnya.
Jika sebuah truk menghabiskan terlalu banyak waktu untuk antre, maka cost per ton dapat meningkat karena output material yang dihasilkan tidak sebanding dengan waktu dan biaya yang dikeluarkan.
Oleh sebab itu, pengelolaan queue time tidak hanya berkaitan dengan produktivitas, tetapi juga dengan efisiensi biaya tambang.
Mengurangi queue time membutuhkan pendekatan berdasarkan data, bukan sekadar menambah jumlah truk.
Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:
Catat dan analisis setiap komponen cycle time, mulai dari loading time, hauling time, dumping time hingga queue time.
Dengan begitu, perusahaan dapat mengetahui bagian mana yang paling banyak menghabiskan waktu.
Jumlah truk harus disesuaikan dengan kapasitas excavator atau loading equipment.
Terlalu sedikit truk dapat membuat alat loading idle. Sebaliknya, terlalu banyak truk dapat menyebabkan antrean panjang.
Tujuannya adalah menciptakan match factor yang optimal antara alat angkut dan alat muat.
Sistem dispatch dapat membantu mengatur distribusi truck menuju loading point dan dumping point berdasarkan kondisi operasional secara real-time.
Dengan pengaturan yang tepat, truk dapat diarahkan ke lokasi yang memiliki waktu tunggu lebih rendah.
Queue time juga dapat dipengaruhi oleh kondisi jalan. Jalan yang sempit, rusak, licin, atau memiliki titik bottleneck dapat memperlambat pergerakan truck dan menyebabkan penumpukan unit.
Perbaikan geometri jalan, maintenance rutin, serta pengaturan lalu lintas dapat membantu menjaga flow hauling tetap lancar.
Queue time sebaiknya tidak hanya dihitung ketika terjadi masalah besar.
Data dapat dipantau berdasarkan shift, lokasi, unit, operator, maupun waktu tertentu. Dari data tersebut, tim operasional dapat melihat pola antrean dan menentukan tindakan perbaikan.
Dalam operasional tambang, produktivitas tidak selalu harus ditingkatkan dengan menambah jumlah unit. Salah satu cara yang lebih efektif adalah mengurangi waktu yang tidak menghasilkan output.
Queue time merupakan salah satu indikator penting untuk melihat apakah aliran material sudah berjalan secara efisien.
Ketika waktu tunggu dapat ditekan, truk memiliki lebih banyak waktu untuk melakukan hauling, jumlah ritasi dapat meningkat, utilisasi unit menjadi lebih optimal, dan biaya operasional per ton berpotensi menjadi lebih rendah.
Karena itu, mengukur dan mengendalikan queue time merupakan bagian penting dalam upaya meningkatkan produktivitas tambang secara keseluruhan.
Jika sedang mencari truk dengan performa terbaik, MC Group siap menjadi pilihan kamu.
Sebagai distributor resmi heavy duty truck Shacman, kami siap memenuhi kebutuhan di berbagai sektor industri, terutama pertambangan.
Hubungi kami segera!